Dalam perjalanan
hidup, manusia sering merasa lelah bukan hanya karena banyaknya tugas, ujian,
atau masalah yang datang, tetapi karena hatinya terus berusaha mengendalikan
sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Kalam hikmah yang dinisbatkan
kepada Ibnu Atha’illah As-Sakandari ini mengajak kita merenung bahwa sumber
keletihan batin sering kali bukan terletak pada beratnya kehidupan, melainkan
pada lemahnya tawakal. Ketika seseorang merasa harus mengatur semua hal
sendiri, memastikan semua berjalan sesuai kehendaknya, dan takut jika
rencananya gagal, maka hatinya akan mudah gelisah. Padahal, manusia hanya
diperintahkan untuk berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan
Allah Swt.
Makna “lelahmu
bukan karena beratnya hidup” menunjukkan bahwa hidup memang tidak pernah
sepenuhnya bebas dari ujian. Setiap orang memiliki beban masing-masing: ada
yang diuji dengan keluarga, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, atau
perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Namun, yang membuat beban itu terasa
semakin berat adalah ketika manusia memikulnya sendirian tanpa menghadirkan
Allah dalam hatinya. Ia terus berpikir, “Bagaimana jika gagal?”, “Bagaimana
jika tidak sesuai rencana?”, atau “Bagaimana jika semua tidak berjalan seperti
yang aku harapkan?” Pikiran semacam ini membuat jiwa letih, sebab manusia
sedang mencoba mengambil peran yang bukan miliknya, yaitu memastikan takdir
berjalan sesuai keinginannya.
Allah Swt.
berfirman dalam Al-Qur’an surat Ath-Thalaq ayat 3:
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ
قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari
arah yang tidak dia duga. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah
akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan
urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Ayat ini menegaskan bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha, tetapi
menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Orang
yang bertawakal tetap bekerja, belajar, berdoa, dan memperbaiki diri, tetapi
hatinya tidak menggantungkan ketenangan pada hasil yang ia inginkan. Ia yakin
bahwa keputusan Allah selalu mengandung hikmah, meskipun tidak selalu segera
dipahami.
Bagian kalam
hikmah “saat hati berhenti merasa mampu mengatur segalanya” mengajarkan
kerendahan hati di hadapan Allah. Manusia sering merasa tenang jika semua hal
berada dalam kendalinya, padahal kendali manusia sangat terbatas. Kita bisa
merencanakan, tetapi tidak bisa memastikan masa depan. Kita bisa menjaga,
tetapi tidak bisa menolak semua musibah. Kita bisa mencintai, tetapi tidak bisa
mengatur hati orang lain. Karena itu, ketenangan sejati lahir ketika seseorang
sadar bahwa dirinya hamba, bukan pengatur semesta. Kesadaran ini membuat hati
lebih ringan, sebab ia tidak lagi memaksa hidup berjalan sesuai kehendaknya,
melainkan belajar ridha terhadap ketentuan Allah.
Rasulullah Saw.
bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” Hadis ini menunjukkan keseimbangan antara usaha dan tawakal: burung tetap keluar mencari rezeki, tetapi rezekinya datang karena Allah. Maka, pesan utama dari kalam hikmah tersebut adalah agar manusia tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak membiarkan hatinya hancur karena ingin mengatur segalanya. Ketika beban hidup diserahkan kepada Allah dengan penuh percaya, saat itulah ketenangan mulai turun ke dalam hati.
