Dalam perjalanan
seorang hamba menuju Allah Swt., tantangan terbesar tidak selalu datang dari
luar dirinya, tetapi justru sering tersembunyi di dalam hati. Seseorang mungkin
tampak tekun beribadah, rajin menghadiri majelis ilmu, banyak bersedekah, atau
memiliki pengetahuan agama yang luas, tetapi semua itu belum tentu menjadi
tanda kedekatan kepada Allah apabila di dalam hatinya masih tumbuh rasa lebih
mulia daripada orang lain. Karena itu, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada
Al-Habib Umar bin Hafidz, “Periksalah dirimu. Jika di hatimu ada perasaan
bahwa kamu memiliki kelebihan di atas orang lain, maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya kamu belum beranjak selangkah pun menuju Allah,” merupakan
peringatan mendalam agar setiap Muslim tidak hanya memperindah amal lahiriah,
tetapi juga terus membersihkan batinnya. Jalan menuju Allah pada hakikatnya
adalah jalan penyucian jiwa, penghancuran ego, dan penyerahan diri secara total
kepada-Nya.
Perasaan memiliki
kelebihan atas orang lain merupakan salah satu bentuk penyakit hati yang sangat
halus, yaitu ‘ujub dan takabur. ‘Ujub membuat seseorang kagum
terhadap dirinya sendiri, sedangkan takabbur mendorongnya merasa lebih tinggi
serta memandang rendah orang lain. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat
tumbuh justru dari sesuatu yang pada awalnya baik, seperti ilmu, ibadah,
kedudukan, keturunan, harta, bahkan pengalaman spiritual. Seseorang dapat
merasa dirinya lebih dekat kepada Allah hanya karena ibadahnya lebih banyak
atau pengetahuan agamanya lebih luas. Padahal semua kelebihan tersebut
semata-mata merupakan karunia Allah, bukan hasil kekuatan manusia secara
mutlak. Allah Swt. mengingatkan,
اَلَّذِيْنَ
يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ
وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ
اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ
هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
“(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi
dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan
dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih
mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih
berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia
lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). Ayat ini
mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang berada dalam ilmu dan penilaian
Allah, bukan dalam penilaian manusia terhadap dirinya sendiri.
Kalam hikmah
tersebut juga menegaskan bahwa perjalanan menuju Allah tidak diukur dari
seberapa banyak seseorang dikenal sebagai orang saleh, tetapi dari seberapa
dalam hatinya memiliki tawadu' di hadapan Allah dan terhadap sesama
manusia. Orang yang benar-benar mengenal Allah akan semakin menyadari kelemahan
dirinya. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin ia mengetahui betapa luas
ilmu Allah; semakin banyak amal yang dilakukan, semakin ia khawatir apakah amal
tersebut diterima; dan semakin banyak nikmat yang diterimanya, semakin besar
rasa syukurnya kepada Sang Pemberi nikmat. Karena itu, para ahli suluk dan
ulama tasawuf menempatkan kerendahan hati sebagai salah satu tanda penting
kematangan spiritual. Seorang hamba yang berjalan menuju Allah tidak sibuk
melihat kekurangan orang lain, tetapi justru sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
Ia memandang orang lain dengan kasih sayang, sedangkan terhadap dirinya sendiri
ia bersikap penuh kewaspadaan dan muhasabah.
Nasihat tersebut sekaligus mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu pemeriksaan terus-menerus terhadap keadaan hati. Setiap kali muncul bisikan, “Aku lebih baik daripada dia,” seorang Muslim seharusnya segera menyadari bahwa bisikan semacam itu dapat menjadi pintu masuk kesombongan. Kita tidak mengetahui bagaimana kedudukan seseorang di sisi Allah, bagaimana akhir kehidupannya, ataupun amal tersembunyi yang dimilikinya. Orang yang hari ini tampak jauh dari kebaikan boleh jadi esok hari memperoleh hidayah dan menjadi kekasih Allah, sementara seseorang yang merasa dirinya telah saleh dapat tergelincir karena kesombongan. Karena itulah, sikap seorang mukmin seharusnya bukan merasa lebih tinggi daripada manusia lain, melainkan berharap rahmat Allah bagi dirinya dan bagi seluruh makhluk. Bahkan ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, hatinya tetap berkata, “Semoga Allah memperbaikinya dan menjaga diriku agar tidak terjatuh dalam kesalahan yang sama.”
Dengan demikian, makna terdalam dari kalam hikmah ini adalah bahwa kedekatan kepada Allah menuntut kematian ego sebelum kematian jasad. Selama seseorang masih menjadikan dirinya sebagai pusat kemuliaan, merasa memiliki keistimewaan, dan menganggap manusia lain berada di bawah dirinya, perjalanan rohaninya masih terhalang oleh hijab kesombongan. Hamba yang benar-benar menuju Allah akan semakin kecil dalam pandangan dirinya sendiri dan semakin besar pengagungannya kepada Allah Swt. Ia menyadari bahwa iman adalah anugerah, ilmu adalah amanah, ibadah adalah pertolongan Allah, dan setiap kebaikan terjadi semata-mata karena rahmat-Nya. Maka, ukuran kemajuan spiritual bukanlah ketika seseorang merasa telah menjadi lebih baik daripada orang lain, melainkan ketika ia semakin takut kepada Allah, semakin lembut terhadap manusia, semakin mudah memaafkan, semakin jauh dari kesombongan, dan semakin sadar bahwa tanpa rahmat Allah dirinya tidak memiliki apa-apa. Inilah jalan tawaduk: jalan seorang hamba yang tidak sibuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, tetapi berusaha merendahkan hati agar Allah meninggikan derajatnya di sisi-Nya.
