Di tengah arus informasi yang
begitu deras, manusia sering merasa cukup hanya dengan membaca sekilas, melihat
ringkasan, atau menerima potongan-potongan pengetahuan dari media sosial.
Padahal, jiwa manusia tidak cukup dipelihara dengan informasi yang cepat dan
dangkal. Dalam konteks inilah perkataan Buya Hamka, “Membaca buku-buku yang
baik berarti memberi makanan rohani yang baik,” terasa sangat dalam dan
relevan. Ungkapan ini mengajarkan bahwa sebagaimana tubuh memerlukan makanan
bergizi agar sehat dan kuat, demikian pula jiwa memerlukan asupan yang baik
agar tetap hidup, jernih, dan bertumbuh. Buku yang baik bukan hanya menambah
wawasan, tetapi juga membentuk cara berpikir, memperhalus perasaan, dan
menuntun manusia kepada kebijaksanaan.
Makna utama dari ungkapan
tersebut terletak pada istilah “makanan rohani”. Rohani adalah sisi batin
manusia yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, akhlak, iman, dan kesadaran
hidup. Jika tubuh yang lapar akan lemah, maka jiwa yang kosong dari bacaan
bermutu juga akan mudah rapuh, gelisah, dan kehilangan arah. Buku-buku yang
baik memberi isi kepada batin: ada yang menanamkan nilai moral, ada yang menumbuhkan
semangat, ada yang memperluas pandangan hidup, dan ada pula yang mendekatkan
manusia kepada Tuhan. Karena itu, membaca tidak boleh dipandang hanya sebagai
kegiatan akademik atau hiburan, tetapi juga sebagai sarana merawat kedalaman
jiwa dan kematangan kepribadian.
Selain itu, ungkapan Buya Hamka
menegaskan bahwa “tidak semua bacaan memberi pengaruh yang sama”. Sebagaimana
tidak semua makanan menyehatkan tubuh, tidak semua bacaan menyehatkan rohani.
Buku-buku yang baik adalah bacaan yang mengandung ilmu, nilai, hikmah, dan
manfaat. Bacaan seperti ini mendorong seseorang menjadi lebih bijak, lebih
santun, lebih kritis, dan lebih sadar akan tanggung jawab hidupnya. Sebaliknya,
bacaan yang dangkal, penuh kebencian, atau menyesatkan dapat mengotori pikiran dan
melemahkan jiwa. Oleh sebab itu, seseorang perlu selektif dalam memilih bacaan,
karena apa yang ia baca sedikit demi sedikit akan memengaruhi isi pikirannya,
sikap hidupnya, bahkan kualitas tutur katanya.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang akrab dengan buku-buku baik biasanya memiliki kedewasaan yang lebih tampak dalam memandang persoalan. Ia tidak mudah terbawa emosi, tidak tergesa-gesa dalam menilai, dan cenderung memiliki sudut pandang yang lebih luas. Hal ini terjadi karena membaca buku yang bermutu melatih seseorang untuk berdialog dengan gagasan, memahami pengalaman hidup orang lain, dan merenungkan makna di balik suatu peristiwa. Dengan demikian, membaca bukan hanya kegiatan menerima kata-kata, melainkan proses membangun jiwa. Buku menjadi teman sunyi yang menuntun, menegur, menghibur, dan menguatkan pembacanya tanpa suara, tetapi dengan pengaruh yang sangat besar.
Pada akhirnya, perkataan Buya Hamka tersebut merupakan nasihat agar manusia tidak hanya sibuk memenuhi kebutuhan lahiriah, tetapi juga memperhatikan kebutuhan batiniahnya. Tubuh memang perlu makan agar hidup, tetapi jiwa pun perlu santapan agar tidak kering dan kosong. Membaca buku-buku yang baik adalah salah satu cara paling mulia untuk merawat rohani, memperkaya akal, dan membentuk akhlak. Dari kebiasaan membaca, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas, lebih tenang, dan lebih bernilai dalam hidupnya. Karena itu, memilih buku yang baik sesungguhnya sama dengan memilih jalan untuk menyehatkan hati, menjernihkan pikiran, dan memuliakan diri.
