Dalam kehidupan, sering kali
hati manusia lebih cepat gelisah ketika memikirkan urusan makan, pekerjaan,
gaji, jabatan, dan masa depan duniawi. Padahal, sejak seorang hamba berada
dalam kandungan ibunya, Allah telah menetapkan rezekinya dengan ukuran yang
tidak akan tertukar dengan siapa pun. Kalimat “Allah menjamin rezeki, tetapi
Allah tidak menjamin keimanan seseorang. Oleh karena itu risaukanlah tentang
keimananmu, bukan tentang rezekimu” mengandung nasihat yang sangat dalam:
jangan sampai manusia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sudah Allah jamin,
tetapi lalai menjaga sesuatu yang harus terus diperjuangkan, yaitu iman.
Rezeki adalah bagian dari
ketetapan Allah. Setiap makhluk yang hidup di bumi telah Allah tanggung
rezekinya sesuai kehendak-Nya. Burung yang keluar dari sarangnya dalam keadaan
lapar dapat kembali dalam keadaan kenyang karena ia bergerak, berusaha, dan
bertawakal. Begitu pula manusia, ia tetap wajib bekerja, belajar, berdagang,
mengajar, atau mencari nafkah dengan cara yang halal. Namun, usaha itu
seharusnya dilakukan dengan hati yang tenang, bukan dengan ketakutan berlebihan
seolah-olah hidup sepenuhnya bergantung pada kekuatan dirinya sendiri. Rezeki
memang harus dijemput, tetapi tidak perlu dirisaukan secara berlebihan karena
Allah Maha Pemberi Rezeki.
Berbeda dengan rezeki, keimanan
tidak boleh dianggap aman begitu saja. Iman manusia dapat naik dan turun. Ada
saatnya hati terasa dekat dengan Allah, mudah menangis ketika berdoa, ringan beribadah,
dan takut berbuat dosa. Namun, ada pula saatnya hati menjadi lalai, malas shalat,
mudah iri, sombong, marah, atau terlalu mencintai dunia. Inilah sebabnya
keimanan harus selalu dijaga, dirawat, dan diperbarui. Seseorang tidak bisa
merasa cukup hanya karena pernah rajin beribadah atau pernah berada di
lingkungan yang baik, sebab godaan dunia, hawa nafsu, dan bisikan setan dapat
melemahkan iman kapan saja.
Nasihat tersebut bukan berarti manusia dilarang memikirkan kebutuhan hidup. Islam tidak mengajarkan kemalasan, pasrah tanpa usaha, atau meninggalkan tanggung jawab dunia. Yang ditekankan adalah keseimbangan: bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai hati diperbudak oleh kekhawatiran rezeki. Carilah nafkah yang halal, tetapi jangan mengorbankan shalat, kejujuran, akhlak, dan ketaatan kepada Allah. Sebab, rezeki yang banyak tidak akan membawa ketenangan apabila iman hilang dari hati. Sebaliknya, rezeki yang sederhana dapat terasa cukup dan berkah apabila disertai keimanan, syukur, dan tawakal.
Oleh karena itu, yang paling layak kita risaukan setiap hari adalah keadaan iman kita: apakah hari ini kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah rezeki yang kita cari membuat kita semakin taat atau malah membuat kita lalai? Kekhawatiran terhadap iman akan melahirkan doa, introspeksi, tobat, dan kesungguhan dalam beribadah. Sementara kekhawatiran berlebihan terhadap rezeki sering kali hanya melahirkan stres, iri hati, dan ketidakpuasan. Maka, tenangkanlah hati dalam urusan rezeki karena Allah telah menjaminnya, dan seriuslah menjaga iman karena iman adalah bekal utama untuk selamat di dunia dan akhirat.
