Ada satu masa
ketika seluruh kebanggaan dunia harus diletakkan: gelar tidak lagi disebut,
jabatan tidak lagi dipertahankan, kekayaan tidak lagi dapat dibawa, dan pujian
manusia tidak lagi berarti. Ketika seseorang telah memasuki alam kematian, yang
dibutuhkannya bukan lagi keberhasilan duniawi anak-anaknya, melainkan rahmat
Allah dan amal kebaikan yang terus mengalir. Dalam konteks inilah kalam hikmah
KH. Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha’) “Ketika kelak meninggal, orang tua baru
akan menyadari betul bahwasanya mereka lebih butuh kepada anak yang saleh
daripada anak yang hanya memiliki prestasi, yang unggul dalam urusan dunia tapi
nol agama” menjadi peringatan yang mendalam. Pesan tersebut mengajak orang
tua agar tidak hanya membesarkan anak untuk meraih dunia, tetapi juga
mendidiknya agar mengenal Allah, mencintai ibadah, berakhlak mulia, dan
memiliki kesadaran untuk berbakti kepada orang tua, baik ketika mereka masih
hidup maupun setelah wafat.
Rasulullah Saw.
bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ
آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.
“Apabila
manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” Hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim ini menegaskan bahwa anak saleh dapat menjadi
salah satu sebab berlanjutnya kebaikan bagi orang tua setelah kematian. Ketika
orang tua telah berada di dalam kubur, mereka tidak dapat lagi menambah shalat,
sedekah, zikir, dan amal kebajikannya. Namun, doa anak yang memohonkan ampunan
dan rahmat Allah dapat terus dipanjatkan. Karena itu, kesalehan anak bukan
sekadar kebanggaan keluarga, melainkan investasi akhirat yang nilainya jauh
melampaui prestasi akademik, karier, kekayaan, dan kedudukan sosial.
Anak saleh
tidak hanya ditandai oleh kemampuan membaca Al-Qur’an atau banyaknya ibadah
yang dilakukan, tetapi juga oleh keimanan, ketakwaan, adab, kejujuran, dan
baktinya kepada kedua orang tua. Kesalehan harus tampak dalam kesantunan
berbicara, kesediaan membantu, kesungguhan menjaga kehormatan keluarga, serta
kepedulian terhadap kehidupan akhirat orang tuanya. Setelah orang tua
meninggal, anak saleh tidak melupakan mereka. Ia mendoakan, memohonkan ampun,
bersedekah atas nama mereka, melunasi tanggungan yang diketahuinya, menjaga
hubungan dengan kerabat, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang pernah
diajarkan. Dengan demikian, hubungan seorang anak dengan orang tuanya tidak
berhenti di pemakaman, tetapi terus hidup melalui doa, amal kebajikan, dan
bakti yang dilandasi keimanan.
Kalam hikmah
tersebut sekaligus menjadi teguran bagi orang tua yang hanya mengukur
keberhasilan pendidikan melalui nilai rapor, gelar akademik, kemampuan bahasa
asing, pekerjaan bergengsi, atau penghasilan yang tinggi. Islam tidak melarang
semua pencapaian itu, tetapi menempatkannya di bawah bimbingan iman dan akhlak.
Allah memerintahkan orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari
api neraka dalam Surah At-Tahrim ayat 6. Rasulullah Saw. juga mengingatkan
bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya; seorang ayah bertanggung jawab atas keluarganya, sedangkan
seorang ibu bertanggung jawab atas rumah dan anak-anaknya. Oleh sebab itu, pendidikan
agama bukan sekadar pelengkap, melainkan amanah utama yang kelak akan
dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Prestasi duniawi sebenarnya dapat menjadi ibadah apabila diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kemaslahatan. Anak yang cerdas, berpendidikan tinggi, dan sukses dalam pekerjaan dapat memberi manfaat besar kepada masyarakat. Akan tetapi, prestasi yang tidak disertai agama dapat kehilangan arah: kecerdasan dapat melahirkan kesombongan, kekayaan dapat menumbuhkan kelalaian, dan kekuasaan dapat berubah menjadi kezaliman. Sebaliknya, ketika ilmu dipadukan dengan iman, keberhasilan menjadi jalan pengabdian kepada Allah. Rasulullah Saw. menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya, menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu terletak pada kedekatannya dengan petunjuk Allah dan manfaatnya bagi sesama. Karena itu, pilihan yang tepat bukanlah antara anak saleh atau anak berprestasi, melainkan mendidik anak agar berprestasi sekaligus saleh.
Dengan demikian, pesan Gus Baha’ mengingatkan bahwa kebutuhan terdalam orang tua bukan hanya melihat anaknya berhasil di dunia, tetapi berharap anak tersebut menjadi penerus kebaikan yang menolong mereka di akhirat. Orang tua hendaknya tidak hanya bertanya, “Berapa nilai anak saya?” atau “Akan menjadi apa ia kelak?”, tetapi juga, “Apakah ia mengenal Tuhannya, menjaga shalatnya, mencintai Al-Qur’an, berakhlak baik, dan mendoakan orang tuanya?” Rumah perlu menjadi tempat pertama anak belajar iman, ibadah, adab, kasih sayang, dan tanggung jawab. Gelar mungkin mengangkat nama keluarga selama beberapa tahun, tetapi doa anak saleh—dengan izin Allah—dapat menjadi cahaya yang terus menyertai orang tuanya setelah kematian. Kesuksesan sejati ialah ketika anak mampu meraih dunia tanpa kehilangan akhirat serta menjadikan ilmu, prestasi, dan kehidupannya sebagai jalan menuju keridhaan Allah.
