Halaman

Minggu, 04 Oktober 2026

Mata Hati, Ilmu, dan Keselamatan di Akhir Zaman

Peringatan Haul ke-115 Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi bukan sekadar momentum untuk mengenang sosok ulama besar, pecinta Rasulullah Saw., dan penyusun Simthud Durar, tetapi juga kesempatan untuk menghidupkan kembali nasihat-nasihat beliau yang tetap relevan melintasi zaman. Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, derasnya informasi, perubahan nilai, dan berbagai godaan yang sering kali tampil dalam bentuk yang sulit dibedakan antara benar dan salah, kalam hikmah beliau terasa semakin aktual. Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi mengingatkan:

 وَالزَّمَانُ كَثُرَتْ فِتْنَتُهُ، وَاخْتَلَطَ سَيِّئُهُ وَحَسَنُهُ، فَلَا يُمَيِّزُ بَيْنَ الطَّرِيْقَيْنِ إِلَّا مَنْ لَهُ عَيْنٌ، فَكُنْ عَلَى حَذَرٍ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي مَسَالِكِ الِاشْتِبَاهِ.

“Zaman ini telah banyak fitnahnya, dan keburukan bercampur dengan kebaikan. Tidak ada yang mampu membedakan kedua jalan itu kecuali orang yang memiliki pandangan hati. Maka berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke jalan-jalan yang samar.” Nasihat ini mengajarkan bahwa keselamatan seseorang tidak hanya bergantung pada kecerdasan akal, tetapi juga pada kejernihan hati dalam memandang hakikat sesuatu.

Ungkapan وَالزَّمَانُ كَثُرَتْ فِتْنَتُهُ “zaman ini telah banyak fitnahnya” menggambarkan suatu keadaan ketika manusia menghadapi berbagai ujian yang dapat menggoyahkan keimanan, akhlak, dan keteguhan prinsip. Fitnah dalam pengertian ini tidak hanya berarti tuduhan atau berita bohong, melainkan segala bentuk ujian yang dapat memalingkan manusia dari Allah Swt. dan jalan kebenaran. Fitnah dapat muncul dalam bentuk cinta dunia yang berlebihan, kekuasaan, harta, popularitas, fanatisme, pertengkaran, kebencian, maupun informasi yang menyesatkan. Pada masa sekarang, manusia bahkan dapat menerima ribuan informasi dalam waktu yang sangat singkat melalui media sosial dan berbagai saluran digital. Jika tidak disertai ilmu dan kejernihan hati, seseorang dapat dengan mudah mempercayai kebohongan, menyebarkan fitnah, membenci orang lain tanpa dasar, bahkan menganggap sesuatu yang salah sebagai kebenaran.

Lebih mendalam lagi, beliau mengatakan, وَاخْتَلَطَ سَيِّئُهُ وَحَسَنُهُ “dan keburukan bercampur dengan kebaikannya.” Inilah salah satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia: kebatilan tidak selalu hadir dengan wajah kebatilan, dan kebaikan tidak selalu tampil secara sederhana sehingga mudah dikenali. Ada keburukan yang dibungkus dengan kata-kata indah, kepentingan pribadi yang mengatasnamakan kemaslahatan, kesombongan yang menyamar sebagai ketegasan, serta keinginan mendapatkan pujian yang dibungkus dengan amal kebajikan. Sebaliknya, ada nasihat yang terasa pahit tetapi sesungguhnya membawa kebaikan, dan ada keputusan yang tidak menyenangkan tetapi justru melindungi seseorang dari keburukan. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya. Ia perlu melihat niat, tujuan, cara, serta akibat yang ditimbulkan dari setiap tindakan sebelum menentukan sikap.

Kemudian Al-Habib ‘Ali Al-Habsyi memberikan kunci yang sangat penting melalui ungkapan فَلَا يُمَيِّزُ بَيْنَ الطَّرِيْقَيْنِ إِلَّا مَنْ لَهُ عَيْنٌ  “tidak ada yang mampu membedakan antara kedua jalan itu kecuali orang yang memiliki pandangan.” Kata عَيْنٌ di sini dapat dipahami bukan sekadar mata secara fisik, tetapi sebagai bashirah, yaitu mata hati atau kemampuan batin untuk melihat hakikat suatu perkara. Mata fisik dapat melihat bentuk, warna, dan penampilan, sedangkan mata hati membantu manusia menilai makna, tujuan, dan kebenaran di balik sesuatu. Bashirah tumbuh dari keimanan, ilmu, ketakwaan, keikhlasan, muhasabah, kedekatan kepada Allah Swt., serta kebiasaan mengikuti tuntunan Rasulullah Saw. Semakin bersih hati seseorang dari kesombongan, iri hati, cinta dunia berlebihan, dan hawa nafsu, semakin jernih pula kemampuannya dalam membedakan kebenaran dari kebatilan.

Karena itu, ilmu dan kebersihan hati harus berjalan bersama. Ilmu tanpa kejernihan hati dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan hawa nafsu, sedangkan semangat keagamaan tanpa ilmu dapat menyebabkan seseorang mudah salah dalam memahami suatu persoalan. Orang yang memiliki bashirah tidak tergesa-gesa memberikan penilaian, tidak mudah terbawa arus, dan tidak menjadikan banyaknya pengikut sebagai ukuran mutlak kebenaran. Ia menimbang sesuatu berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., petunjuk para ulama yang terpercaya, akhlak yang mulia, serta pertimbangan maslahat dan mafsadat. Ia juga memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa dirinya dapat keliru. Inilah salah satu karakter orang berilmu: semakin luas pengetahuannya, semakin besar kehati-hatiannya dalam berbicara dan bertindak.

Nasihat tersebut kemudian ditutup dengan peringatan yang sangat tegas: فَكُنْ عَلَى حَذَرٍ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي مَسَالِكِ الِاشْتِبَاهِ  “maka berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke jalan-jalan yang samar.” Dalam kehidupan, tidak semua persoalan berada dalam wilayah hitam dan putih. Ada perkara-perkara syubhat, samar, serta keadaan yang membutuhkan kehati-hatian sebelum seseorang menentukan sikap. Karena itu, sikap wara‘ sangat penting, yaitu kemampuan menahan diri dari perkara yang meragukan demi menjaga agama dan kehormatan. Di zaman media sosial misalnya, kehati-hatian dapat diwujudkan dengan tidak langsung membagikan berita sebelum memastikan kebenarannya, tidak mudah menghakimi seseorang berdasarkan potongan informasi, tidak mengikuti perdebatan yang hanya menimbulkan permusuhan, serta tidak menjadikan ruang digital sebagai tempat melampiaskan kemarahan. Terkadang keselamatan seseorang justru terletak pada kemampuannya untuk diam ketika belum mengetahui kebenaran suatu perkara.

Dengan demikian, kalam hikmah Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi ini mengajarkan bahwa menghadapi zaman penuh fitnah membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan; manusia membutuhkan ilmu yang benar, hati yang bersih, ketakwaan, kehati-hatian, dan kedekatan kepada Allah Swt. Haul ke-115 beliau semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah mata hati kita cukup jernih untuk membedakan jalan yang membawa kepada Allah dan jalan yang menjauhkan dari-Nya? Jangan sampai kemajuan zaman membuat pengetahuan kita semakin luas, tetapi hati semakin kehilangan arah. Semoga melalui keberkahan mengenang para shalihin, Allah Swt. membersihkan hati kita, menganugerahkan bashirah, menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi, serta menuntun langkah kita agar senantiasa berada di jalan Rasulullah Saw. dan para pewaris beliau.

 اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِنُوْرِ الْإِيْمَانِ، وَارْزُقْنَا الْبَصِيْرَةَ فِي الدِّيْنِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Mata Hati, Ilmu, dan Keselamatan di Akhir Zaman

Peringatan Haul ke-115 Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi bukan sekadar momentum untuk mengenang sosok ulama bes...