Dalam tradisi
Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena melalui merekalah ilmu,
adab, dan jalan kebaikan diwariskan dari generasi ke generasi. Seorang guru
bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing hati, memperbaiki
akhlak, dan mengarahkan murid agar hidup lebih dekat kepada Allah. Karena itu,
kalam hikmah yang dinisbatkan kepada KH. Muhammad Abdurahman Kautsar atau Gus
Kautsar ini sangat penting untuk direnungkan: “Menghormati guru itu bukan
sekadar mencium tangannya bolak-balik, tapi sejauh mana kita mampu menjaga nama
baik beliau dengan cara mengamalkan ilmu dan akhlak yang beliau ajarkan.”
Nasihat ini mengingatkan bahwa penghormatan kepada guru tidak cukup berhenti
pada simbol lahiriah, tetapi harus tampak dalam perilaku, akhlak, dan
kesungguhan mengamalkan ilmu.
Ungkapan
“menghormati guru itu bukan sekadar mencium tangannya bolak-balik” tidak
berarti merendahkan tradisi mencium tangan guru. Dalam budaya pesantren dan
masyarakat Muslim, mencium tangan guru adalah bentuk ta’zim, adab, dan
penghormatan yang baik selama dilakukan dengan niat yang benar. Namun, kalam
hikmah ini mengingatkan bahwa penghormatan lahiriah saja belum cukup apabila
tidak disertai penghormatan batin dan perilaku nyata. Seorang murid tidak boleh
hanya tampak sopan di hadapan guru, tetapi abai terhadap ajaran, nasihat, dan
nilai-nilai yang telah diajarkan ketika berada jauh dari pengawasan beliau.
Kalimat “sejauh
mana kita mampu menjaga nama baik beliau” mengandung pesan moral yang sangat
dalam. Nama baik guru tidak hanya dijaga dengan ucapan pujian, tetapi juga
dengan sikap murid dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang murid
berperilaku buruk, meremehkan adab, menyalahgunakan ilmu, atau menjauh dari
akhlak mulia, maka secara tidak langsung ia dapat mencoreng kesan terhadap
pendidikan dan bimbingan gurunya. Sebaliknya, apabila murid menunjukkan
kesantunan, kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab, maka itu menjadi
bukti bahwa ilmu gurunya hidup dalam diri sang murid.
Adapun “dengan cara mengamalkan ilmu dan akhlak yang beliau ajarkan” merupakan inti dari penghormatan yang sesungguhnya. Ilmu dalam Islam bukan hanya untuk dihafal, dibanggakan, atau diperdebatkan, melainkan untuk diamalkan. Guru akan lebih bahagia melihat muridnya menjaga shalat, menghormati orang tua, berbicara dengan santun, tidak sombong karena ilmu, bermanfaat bagi masyarakat, dan tetap rendah hati dalam kehidupan. Akhlak murid adalah cermin keberhasilan pendidikan ruhani, sebab ilmu yang benar seharusnya melahirkan adab, bukan kesombongan.
Dengan demikian, kalam hikmah ini mengajarkan bahwa ta’zim kepada guru harus diwujudkan secara utuh: melalui adab lahir, ketulusan batin, dan pengamalan ilmu dalam kehidupan nyata. Mencium tangan guru adalah tanda hormat yang indah, tetapi menjaga ajaran beliau adalah bentuk hormat yang lebih mendalam. Seorang murid yang benar-benar mencintai gurunya akan berusaha menjaga lisan, akhlak, pergaulan, dan amalnya agar tidak bertentangan dengan ilmu yang telah diterima. Inilah penghormatan yang bernilai religius: menjadikan ilmu guru sebagai cahaya kehidupan, menjaga nama baik beliau melalui akhlak, dan meneruskan kebaikan yang telah beliau tanamkan karena Allah.
