Dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan
tentang tempat-tempat bersejarah sering kali tidak hanya bernilai sejarah,
tetapi juga menjadi pintu untuk memahami kedalaman makna spiritual di balik
peristiwa-peristiwa besar yang dialami Rasulullah Saw. Salah satu pertanyaan
menarik yang kerap muncul adalah: “Manakah yang lebih afdhal, Gua Tsur atau
Gua Hira’?” Pertanyaan ini tidak sekadar membandingkan dua lokasi
geografis, tetapi juga menyentuh dimensi kemuliaan tempat yang terkait langsung
dengan wahyu, perjuangan dakwah, serta pertolongan Allah dalam perjalanan
kenabian.
Gua Hira’ dan Gua Tsur sama-sama memiliki
kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Gua Hira’ terletak di Jabal Nur, tempat
Rasulullah Saw. sering berkhalwah sebelum diangkat menjadi Nabi. Sedangkan Gua
Tsur berada di Jabal Tsur, tempat Rasulullah Saw. bersembunyi bersama Sayyidina
Abu Bakar ra. ketika hijrah dari Makkah menuju Madinah. Dua tempat ini menjadi
saksi dua fase besar: fase persiapan ruhani sebelum wahyu, dan fase perjuangan
dakwah yang menuntut perlindungan Allah.
Pendapat pertama menyatakan bahwa “Gua Tsur
lebih afdhal”, karena peristiwa di dalamnya diabadikan langsung dalam
Al-Qur’an. Dalil yang dijadikan dasar adalah firman Allah dalam surat At-Taubah
ayat 40, ketika Allah menenangkan Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. dengan
kalimat: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Keistimewaan ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa di Gua Tsur bukan sekadar
peristiwa sejarah, tetapi menjadi bagian dari wahyu yang dibaca umat Islam
sepanjang masa. Sebagian ulama menilai bahwa tempat yang disebutkan dalam
Al-Qur’an memiliki kemuliaan tambahan karena diabadikan oleh Allah sendiri.
Selain itu, Gua Tsur dipandang sebagai simbol
pertolongan Allah dalam situasi genting. Di sana terlihat nyata bagaimana Allah
menjaga Nabi-Nya melalui sebab-sebab yang tampak sederhana, seperti sarang
laba-laba dan burung merpati, sehingga musuh tidak menemukan Rasulullah Saw.
Padahal mereka berada sangat dekat. Peristiwa ini mengajarkan bahwa pertolongan
Allah dapat datang dengan cara yang tidak disangka-sangka. Maka, bagi pendukung
pendapat pertama, kemuliaan Gua Tsur terletak pada nilai tawakal, perlindungan
Ilahi, dan penguatan dakwah melalui hijrah.
Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa “Gua
Hira’ lebih afdhal”, karena di sanalah Rasulullah Saw. memilih untuk berkhalwah
dan menyucikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan jahiliyah. Lebih dari itu, Gua
Hira’ adalah tempat turunnya wahyu pertama melalui Malaikat Jibril dengan ayat Iqra’
(surat Al-‘Alaq). Peristiwa tersebut merupakan awal dimulainya risalah kenabian
yang mengubah arah sejarah umat manusia. Karena itu, kemuliaan Gua Hira’
dipandang sangat tinggi sebab menjadi tempat dimulainya cahaya wahyu.
Pendukung pendapat ini juga menekankan bahwa pilihan Rasulullah Saw. untuk menyendiri di Gua Hira’ menunjukkan adanya keutamaan khusus, karena Nabi tidak memilih tempat tersebut tanpa hikmah. Gua Hira’ menjadi simbol kesungguhan Rasulullah Saw. dalam mencari kebenaran, merenungi ciptaan Allah, dan mempersiapkan jiwa menerima amanah besar. Di tempat itulah lahir titik awal kebangkitan Islam, sehingga keutamaannya tidak hanya historis tetapi juga spiritual, sebagai tempat turunnya kalam Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw.
Kesimpulannya, perbedaan pendapat tentang afdhalnya Gua Tsur dan Gua Hira’ menunjukkan keluasan pandangan ulama dalam menilai kemuliaan suatu tempat. “Gua Tsur dimuliakan karena menjadi saksi perlindungan Allah dan diabadikan dalam Al-Qur’an”, sedangkan “Gua Hira’ dimuliakan karena menjadi tempat khalwah Rasulullah Saw. dan turunnya wahyu pertama”. Pada hakikatnya, kedua gua tersebut memiliki keutamaan besar dan saling melengkapi dalam menggambarkan perjalanan dakwah Nabi: dari persiapan ruhani melalui wahyu hingga perjuangan nyata melalui hijrah. Oleh sebab itu, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa kemuliaan tidak hanya terletak pada tempat, tetapi pada nilai iman, perjuangan, dan kedekatan kepada Allah yang tercermin dalam peristiwa di dalamnya.
