Halaman

Selasa, 03 November 2026

Tanah yang Tak Berpindah, Manfaat yang Melintasi Generasi: Memaknai Wakaf Benda Tidak Bergerak dalam Islam

Sebidang tanah dapat tetap berdiri di tempat yang sama selama puluhan tahun, tetapi manfaat yang dihasilkannya bisa berubah mengikuti kebutuhan masyarakat. Tanah yang semula digunakan untuk mendirikan mushala, misalnya, dapat menjadi bagian dari kawasan pendidikan, pelayanan kesehatan, atau kegiatan pemberdayaan ekonomi sepanjang pengembangannya sesuai dengan ikrar wakaf dan ketentuan hukum. Persoalan yang muncul bukan hanya bagaimana seseorang menyerahkan tanahnya untuk kepentingan keagamaan, melainkan juga bagaimana memastikan tanah tersebut tetap terlindungi, terpelihara, dan memberikan manfaat bagi masyarakat setelah pewakafnya meninggal dunia. Kenyataannya, tidak semua tanah wakaf yang memiliki nilai ekonomi tinggi telah dikelola secara optimal. Penelitian Shokhifah dan Wahyudi (2024) di Desa Munggu, Kabupaten Ponorogo, menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia dan pengetahuan nazhir dapat menghambat produktivitas tanah wakaf. Sementara itu, Lathif (2024) mengidentifikasi bahwa pengelolaan tanah dan bangunan wakaf di Indonesia masih memerlukan pengembangan model usaha dan kelembagaan yang lebih beragam. Kedua penelitian tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan wakaf tidak hanya ditentukan oleh status keagamaannya, tetapi juga oleh kepastian hukum, kemampuan pengelola, dan kesesuaian pemanfaatan aset dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam perspektif fikih Islam, wakaf benda tidak bergerak dikenal melalui konsep waqf al-‘aqār (وَقْفُ الْعَقَارِ), yaitu wakaf atas harta tetap seperti tanah, bangunan, dan aset lain yang secara hukum tidak dapat dipindahkan tanpa mengubah kedudukan atau karakteristiknya. Landasan utamanya berkaitan dengan prinsip ḥabs al-aṣl wa tasbīl al-manfa‘ah (حَبْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيْلُ الْمَنْفَعَةِ), yakni mempertahankan pokok harta dan menyalurkan manfaatnya bagi kepentingan yang dibenarkan syariat. Prinsip tersebut tercermin dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim mengenai Umar bin Khattab yang memperoleh tanah di Khaibar. Rasulullah Saw. memberikan petunjuk agar tanah itu dipertahankan, sedangkan hasilnya disedekahkan kepada pihak yang membutuhkan. Al-Zuḥaylī (1985), dalam Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu, menguraikan bahwa objek wakaf harus memiliki nilai yang diakui, dapat dimanfaatkan secara sah, dan memenuhi persyaratan menurut pandangan fikih yang digunakan. Tanah menjadi objek wakaf yang menonjol karena memiliki karakteristik fisik yang relatif tetap dan memungkinkan pemanfaatan berulang tanpa menghabiskan substansi tanahnya. Namun, keutuhan fisik aset tidak serta-merta menjamin keberlanjutan manfaat. Bangunan dapat mengalami kerusakan, lahan dapat kehilangan produktivitas, dan perubahan lingkungan dapat memengaruhi fungsi awalnya. Oleh karena itu, Barkah et al. (2020) menempatkan pemeliharaan dan pemanfaatan harta sebagai bagian penting dari pelaksanaan wakaf. Prinsip mempertahankan pokok harta perlu diterapkan bersama tanggung jawab untuk menjaga fungsi sosialnya.

Secara yuridis, wakaf benda tidak bergerak di Indonesia diatur dalam Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Ketentuan tersebut menjelaskan bahwa objek wakaf benda tidak bergerak mencakup hak atas tanah yang telah ataupun belum terdaftar, bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, hak milik atas satuan rumah susun, serta benda tidak bergerak lainnya yang memenuhi ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan. Pengaturan ini memperlihatkan bahwa objek wakaf tidak hanya berbentuk tanah kosong, tetapi dapat mencakup berbagai bentuk aset yang melekat pada tanah atau mempunyai kedudukan sebagai benda tidak bergerak menurut hukum. Dalam praktiknya, seseorang dapat mewakafkan tanah untuk pembangunan sekolah, bangunan untuk kegiatan pelayanan kesehatan, atau kebun yang hasil pengelolaannya digunakan untuk membiayai kegiatan sosial. Namun, status setiap objek perlu diperiksa secara cermat karena hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai mempunyai karakteristik serta masa berlaku yang berbeda menurut hukum pertanahan. Kejelasan status tersebut menentukan prosedur, jangka waktu, dan kemungkinan pelaksanaan wakaf. Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 beserta perubahannya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018 memberikan pengaturan lebih lanjut mengenai pelaksanaan wakaf. Dengan demikian, keabsahan wakaf benda tidak bergerak harus dibangun melalui kesesuaian antara syarat fikih, bukti kepemilikan yang sah, peruntukan aset, dan mekanisme hukum yang berlaku (Republik Indonesia, 2004, 2006, 2018).

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, wakaf benda tidak bergerak memiliki hubungan erat dengan penyediaan fasilitas keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Tanah wakaf yang digunakan untuk masjid atau musala berfungsi menyediakan ruang ibadah sekaligus menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan Al-Qur'an, pembinaan masyarakat, dan kegiatan kemasyarakatan. Sementara itu, tanah dan bangunan yang diperuntukkan bagi sekolah, madrasah, pesantren, serta perguruan tinggi berkontribusi terhadap penyediaan sarana pendidikan yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Wakaf juga dapat diarahkan untuk pembangunan rumah sakit, klinik, panti sosial, dan pemakaman sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta peruntukan yang ditetapkan. Pasal 22 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 mengakui penggunaan harta wakaf untuk sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, peningkatan ekonomi umat, dan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat. Dalam perspektif pengelolaan, perbedaan fungsi tersebut menuntut pendekatan yang berlainan. Bangunan sekolah memerlukan pembiayaan pemeliharaan ruang belajar, fasilitas kesehatan membutuhkan pembaruan sarana pelayanan, sedangkan tanah pemakaman memerlukan penataan dan perlindungan kawasan. Rozalinda (2015) menjelaskan bahwa pengembangan wakaf perlu diarahkan pada peningkatan manfaat harta dengan mempertimbangkan karakteristik aset dan kemampuan pengelolanya. Oleh karena itu, wakaf benda tidak bergerak sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai penyediaan lokasi bagi suatu kegiatan, tetapi juga sebagai sumber daya sosial yang memerlukan perencanaan penggunaan, pembiayaan operasional, dan pengawasan dalam jangka panjang.

Pelaksanaan wakaf benda tidak bergerak memerlukan prosedur administratif yang menjamin kejelasan kepemilikan, peruntukan, dan kedudukan hukum harta yang diwakafkan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, ikrar wakaf dilakukan oleh wakif kepada nazhir di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) dengan disaksikan oleh dua orang saksi. Pernyataan tersebut dituangkan dalam Akta Ikrar Wakaf (AIW), yang memuat identitas wakif dan nazhir, keterangan mengenai objek wakaf, peruntukan, serta jangka waktu wakaf. Untuk tanah, proses tersebut dilanjutkan dengan pendaftaran pada Kantor Pertanahan sesuai ketentuan Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 2 Tahun 2017. Sertifikasi memberikan bukti administratif mengenai status tanah wakaf sekaligus membantu mencegah penguasaan atau pengalihan yang bertentangan dengan peruntukannya. Bagi wakaf lama yang belum mempunyai AIW, tersedia mekanisme Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) apabila persyaratan pembuktiannya terpenuhi. Pentingnya pencatatan tersebut diperlihatkan oleh penelitian Damanik et al. (2024) di Kecamatan Perbaungan, Sumatera Utara. Berdasarkan data tahun 2022 yang mereka teliti, dari 88 bidang tanah wakaf masjid, sebanyak 43 bidang telah bersertifikat, sedangkan 45 bidang lainnya belum bersertifikat. Penelitian tersebut mengidentifikasi keterbatasan informasi, rendahnya kemampuan pengelola, persoalan administrasi, dan kesadaran hukum masyarakat sebagai hambatan utama. Temuan ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada wakif dan nazhir perlu diperkuat dengan dokumentasi yang dapat melindungi aset dari sengketa pada masa mendatang.

Pengembangan wakaf benda tidak bergerak melalui pendekatan produktif merupakan salah satu cara untuk meningkatkan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan fungsi sosial aset. Tanah pertanian wakaf, misalnya, dapat dikelola melalui kerja sama dengan petani menggunakan akad yang sesuai dengan prinsip muamalah, sedangkan bangunan wakaf yang memiliki potensi komersial dapat dimanfaatkan melalui penyewaan ruang usaha sepanjang tidak bertentangan dengan ikrar dan ketentuan hukum. Pendapatan yang diperoleh kemudian digunakan untuk membiayai pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan keagamaan, atau kebutuhan masyarakat yang telah ditetapkan sebagai penerima manfaat. Penelitian Rahma dan Bustamin (2021) mengenai pemanfaatan tanah wakaf di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, menemukan praktik kerja sama pertanian melalui akad muzāra‘ah dan musāqāh. Meskipun bentuk akadnya dinilai sesuai dengan prinsip syariah, penelitian tersebut juga mengidentifikasi persoalan kesesuaian sistem pembagian hasil dengan ketentuan fikih muamalah. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan yang menghasilkan keuntungan belum tentu sepenuhnya memenuhi prinsip pengelolaan wakaf apabila hubungan ekonomi antarpihak tidak diatur secara tepat. Pada penelitian lain, Rosyid et al. (2024) menguraikan pengembangan aset wakaf peninggalan Kesultanan Demak melalui pemanfaatan lahan dan pembangunan fasilitas komersial yang hasilnya digunakan untuk berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa produktivitas wakaf perlu dinilai berdasarkan kepatuhan akad, keberlanjutan pendapatan, pemeliharaan aset, dan ketepatan penyaluran manfaat, bukan semata-mata berdasarkan besarnya keuntungan yang diperoleh.

Perlindungan terhadap harta wakaf benda tidak bergerak menjadi persoalan yang sangat penting ketika terjadi perubahan tata ruang, pembangunan infrastruktur, atau kebutuhan penggantian aset. Dalam fikih, pembahasan mengenai penggantian harta wakaf dikenal dengan istilah istibdāl al-waqf (اِسْتِبْدَالُ الْوَقْفِ), yaitu penggantian harta wakaf dengan harta lain berdasarkan ketentuan yang dibenarkan. Para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai kebolehan dan persyaratannya karena penggantian aset dapat menimbulkan persoalan terhadap prinsip pemeliharaan harta wakaf. Dalam hukum Indonesia, Pasal 40 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 pada dasarnya melarang harta wakaf dijadikan jaminan, disita, dihibahkan, dijual, diwariskan, ditukar, atau dialihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya. Namun, Pasal 41 memberikan pengecualian terhadap penukaran untuk kepentingan umum yang memenuhi persyaratan hukum, tidak bertentangan dengan syariah, dan memperoleh izin tertulis Menteri atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia. Harta pengganti juga harus memiliki manfaat dan nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta wakaf sebelumnya. Mekanisme lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018. Qolbunnuzuli dan Syibly (2023), dalam penelitian mengenai penukaran tanah wakaf yang belum bersertifikat untuk proyek jalan tol, menunjukkan kompleksitas hubungan antara kepentingan pembangunan, pembuktian status tanah, dan perlindungan hak wakaf. Persoalan ini memperlihatkan bahwa penggantian aset tidak dapat diputuskan hanya berdasarkan pertimbangan nilai ekonomi atau kepentingan pembangunan. Keputusan tersebut harus memenuhi prosedur hukum serta menjamin bahwa kepentingan penerima manfaat wakaf tidak dikorbankan.

Penguatan wakaf benda tidak bergerak di Indonesia memerlukan perubahan cara pandang dari sekadar menerima dan menyimpan aset menuju pengelolaan yang mampu mempertahankan manfaatnya secara terukur. Nazhir perlu memiliki inventarisasi yang memuat lokasi, luas, batas tanah, status sertifikat, kondisi bangunan, peruntukan, biaya pemeliharaan, serta potensi pengembangan setiap aset. Informasi tersebut penting sebagai dasar penyusunan rencana pengelolaan yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, kondisi lingkungan, dan risiko yang mungkin terjadi. Penelitian Shokhifah dan Wahyudi (2024) memperlihatkan bahwa keterbatasan kompetensi nazhir dapat menyebabkan tanah wakaf tidak produktif, sedangkan Rosyid et al. (2024) menunjukkan bahwa pengembangan tata kelola dari pola tradisional menuju pola yang lebih profesional memungkinkan pemanfaatan aset yang lebih beragam. Namun, profesionalisasi tidak boleh menggeser tujuan utama wakaf menjadi sekadar kegiatan mencari keuntungan. Setiap keputusan pengembangan perlu mempertimbangkan ketentuan syariah, kehendak wakif, hak penerima manfaat, serta keberlanjutan aset bagi generasi berikutnya. Pengelola juga perlu menyusun laporan keuangan yang terbuka, melakukan pemeriksaan kondisi aset secara berkala, dan mengevaluasi hasil pemanfaatannya melalui indikator yang relevan, seperti jumlah penerima layanan pendidikan, ketersediaan fasilitas kesehatan, atau pendapatan wakaf yang disalurkan untuk kegiatan sosial. Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, langkah tersebut berkaitan dengan perlindungan harta (ḥifẓ al-māl) sekaligus pemenuhan kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, ukuran keberhasilan wakaf benda tidak bergerak tidak berhenti pada kepastian status kepemilikan atau keberadaan bangunan, melainkan juga pada kemampuannya mempertahankan amanah serta menghasilkan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan sepanjang masa.

Daftar Pustaka

Al-Zuḥaylī, W. (1985). Al-fiqh al-Islāmī wa adillatuhu (الفقه الإسلامي وأدلته) (Cet. ke-2). Dār al-Fikr.

Barkah, Q., Azwari, P. C., Saprida, & Umari, Z. F. (2020). Fikih zakat, sedekah, dan wakaf. Kencana. https://books.google.co.id/books?id=I7XyDwAAQBAJ

Damanik, H., Yamamah, A., & Syahmedi, R. (2024). Obstacles in the management of certification of mosque endowment land in Perbaungan District (Implementation of Law Number 41 of 2004 concerning endowments). Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics, 7(3), 5542–5552. https://doi.org/10.31538/iijse.v7i3.5627

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2017). Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah Wakaf di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. https://peraturan.bpk.go.id/Details/103747/permen-agrariakepala-bpn-no-2-tahun-2017

Lathif, S. (2024). Variations of productive waqf management model in Indonesia: A literature study. Munazzama: Journal of Islamic Management and Pilgrimage, 4(1), 74–82. https://doi.org/10.21580/mz.v4i1.21152

Qolbunnuzuli, D., & Syibly, M. R. (2023). Ruislag tanah wakaf belum bersertifikat untuk proyek jalan tol dalam perspektif hukum Islam. Al-Mawarid: Jurnal Syariah dan Hukum, 5(2), 159–172. https://doi.org/10.20885/mawarid.vol5.iss2.art3

Rahma, V., & Bustamin, B. (2021). Pemanfaatan tanah wakaf sebagai lahan produktif dalam tinjauan fiqh muamalah. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah, 5(2), 139–156. https://doi.org/10.26618/j-hes.v5i02.5752

Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. https://jdih.kemenkeu.go.id/dok/uu-41tahun2004

______________. (2006). Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. https://jdih.kemenkeu.go.id/dok/pp-42-tahun-2006

______________. (2018). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. https://peraturan.bpk.go.id/Details/85186/pp-no-25-tahun-2018

Rosyid, A. Z., Shaharudin, S. A. B., Sholihah, H., & Asmaji. (2024). The dynamics of productive waqf management of Islamic kingdom property in Java. Al-'Adalah, 21(1), 149–174. https://doi.org/10.24042/adalah.v21i1.16384

Rozalinda. (2015). Manajemen wakaf produktif. Rajawali Pers. https://rajagrafindo.co.id/produk/manajemen-wakaf-produktif/

Shokhifah, E. Z., & Wahyudi, W. (2024). Produktivitas pengelolaan tanah wakaf di Desa Munggu Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo perspektif hukum wakaf di Indonesia. Journal of Sharia Economic Law, 2(2), 79–86. https://doi.org/10.37680/jshel.v2i2.5770

Tanah yang Tak Berpindah, Manfaat yang Melintasi Generasi: Memaknai Wakaf Benda Tidak Bergerak dalam Islam

Sebidang tanah dapat tetap berdiri di tempat yang sama selama puluhan tahun, tetapi manfaat yang dihasilkannya bisa berubah mengikuti kebutu...