Pernahkah kita merenungkan
mengapa sebagian manusia begitu sibuk memperindah penampilan, memperbesar
kekayaan, dan mengejar kemewahan, tetapi terkadang melupakan sesuatu yang jauh
lebih berharga, yaitu memperkaya pikiran, memperluas pengetahuan, dan memperindah
akhlak? Di tengah kehidupan modern yang semakin menempatkan kemewahan materi
sebagai simbol keberhasilan, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan
untuk terlihat lebih kaya, lebih hebat, dan lebih terhormat daripada orang
lain. Rumah yang megah, kendaraan yang mahal, pakaian bermerek, dan berbagai
simbol status sosial terkadang dianggap sebagai ukuran utama kesuksesan.
Padahal, kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang
dimilikinya, melainkan juga oleh keluasan pengetahuan, kedalaman pemikiran,
kebijaksanaan, dan manfaat yang mampu diberikannya kepada sesama. Dalam konteks
inilah, ungkapan penuh makna yang dinisbatkan kepada Prof. Dr. Abdul Mu'ti
menjadi sangat relevan untuk direnungkan: “Hidup harus sederhana, ilmu harus
mewah.” Pesan yang juga diberitakan sebagai nasihat beliau ini mengandung
filosofi tentang keseimbangan antara kesahajaan hidup dan kesungguhan
mengembangkan pengetahuan. Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan yang
berkualitas tidak harus ditandai dengan kemewahan materi, tetapi semestinya
dibangun melalui kekayaan intelektual, kematangan spiritual, dan keluhuran budi
pekerti. Sebab, kemewahan dunia dapat membuat seseorang terlihat terhormat di
mata manusia, tetapi ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang mulia dapat
menjadikan kehidupannya benar-benar bermakna.
Makna “hidup harus sederhana”
bukanlah ajakan untuk menolak kemajuan, menghindari kesejahteraan, atau
menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang buruk. Kesederhanaan justru merupakan
kemampuan seseorang mengelola keinginan, membedakan kebutuhan dengan kemewahan
yang tidak diperlukan, serta menjalani kehidupan secara proporsional tanpa
dikendalikan oleh gengsi dan tuntutan pengakuan sosial. Orang yang sederhana
tidak selalu berarti orang yang memiliki sedikit harta, sebagaimana orang kaya
belum tentu hidup berlebihan. Kesederhanaan merupakan pilihan sikap yang
mencerminkan kedewasaan dalam memandang kehidupan. Seseorang yang memiliki
jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, atau kedudukan terhormat tetap dapat menjalani
kehidupan dengan rendah hati, tidak memamerkan kelebihan, dan tidak merendahkan
orang lain. Kesederhanaan mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang telah
dimiliki, menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, serta menghindari
kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain. Ketika
seseorang mampu hidup sederhana, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk
memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting, seperti pendidikan,
keluarga, kesehatan, ibadah, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesederhanaan
bukanlah tanda ketidakmampuan untuk hidup mewah, melainkan cerminan kemampuan
mengendalikan diri agar nilai kehidupan tidak ditentukan oleh kemewahan yang
dimiliki. Sebab, kekayaan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang
berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang seberapa bijaksana seseorang
mensyukuri dan memanfaatkan apa yang telah dimilikinya.
Sementara itu, ungkapan “ilmu
harus mewah” mengandung pesan bahwa manusia tidak boleh merasa cukup dengan
pengetahuan yang terbatas, pemikiran yang dangkal, atau pemahaman yang
diperoleh tanpa proses pembelajaran yang sungguh-sungguh. Kata mewah dalam
konteks ini tidak harus dimaknai sebagai ilmu yang mahal atau hanya dapat
diperoleh oleh kalangan tertentu, melainkan sebagai pengetahuan yang luas,
mendalam, berkualitas, terus diperbarui, dan memiliki nilai manfaat yang
tinggi. Seseorang boleh memilih hidup dengan fasilitas yang sederhana, tetapi
hendaknya memiliki semangat belajar yang besar, wawasan yang terbuka, kemampuan
berpikir kritis, dan keinginan untuk terus mengembangkan dirinya. Kemewahan
ilmu dapat diwujudkan melalui kebiasaan membaca, meneliti, berdiskusi, menguji
kebenaran informasi, menghargai perbedaan pandangan, serta mempelajari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gelar akademik yang tinggi tentu
merupakan pencapaian yang patut dihargai, tetapi keluasan ilmu tidak berhenti
pada banyaknya ijazah, sertifikat, atau penghargaan yang dimiliki. Ilmu yang
berkualitas juga tercermin dari kemampuan memahami persoalan secara mendalam,
mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan,
dan menghasilkan solusi bagi kehidupan. Oleh karena itu, memperkaya ilmu
merupakan investasi jangka panjang yang tidak kehilangan nilai hanya karena perubahan
keadaan ekonomi atau kedudukan sosial. Harta dapat berkurang ketika digunakan,
tetapi ilmu yang terus dipelajari, diamalkan, dan dibagikan justru dapat
berkembang serta memberikan manfaat yang semakin luas. Maka, jangan merasa
cukup hanya karena telah memiliki pengetahuan, sebab semakin banyak seseorang
belajar, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih begitu luas ilmu yang
belum diketahuinya.
Pesan “hidup harus sederhana, ilmu harus mewah” sesungguhnya mengajarkan keseimbangan antara kualitas kehidupan lahiriah dan kedalaman kualitas diri. Kesederhanaan membentuk pribadi yang rendah hati, sedangkan ilmu yang luas membangun kemampuan untuk berpikir, memahami, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan agar seseorang tidak terjebak dalam dua keadaan yang sama-sama perlu dihindari, yaitu kemewahan materi tanpa kedalaman pengetahuan dan keluasan ilmu tanpa keluhuran akhlak. Orang yang memiliki ilmu tinggi, tetapi menggunakan pengetahuannya untuk menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau sekadar mengejar popularitas, belum sepenuhnya mencerminkan kemuliaan ilmu. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dan terus mengembangkan pengetahuan dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi teladan yang sangat berharga bagi lingkungannya. Prinsip tersebut relevan diterapkan dalam dunia pendidikan, kepemimpinan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Seorang guru, misalnya, tidak harus menampilkan kemewahan untuk memperoleh penghormatan murid-muridnya, tetapi perlu terus memperkaya pengetahuan, meningkatkan kompetensi, dan memperlihatkan keteladanan dalam perilaku. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kedudukan tinggi, tetapi harus mempunyai wawasan, integritas, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat. Demikian pula seorang akademisi atau cendekiawan hendaknya tidak sekadar mengejar pengakuan intelektual, melainkan memastikan bahwa pengetahuannya mampu menjawab persoalan nyata. Ilmu yang tinggi seharusnya tidak membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat, tetapi justru menjadikannya semakin rendah hati, terbuka terhadap pembelajaran, dan bersungguh-sungguh menghadirkan manfaat bagi sesama. Sebab, kemewahan ilmu menemukan makna terbaiknya ketika bertemu dengan kesederhanaan sikap dan kemuliaan akhlak.
Dengan demikian, kalam hikmah yang dinisbatkan kepada Prof. Dr. Abdul Mu'ti mengajak kita meninjau kembali ukuran keberhasilan dan kemuliaan dalam menjalani kehidupan. Jangan sampai kita begitu bersemangat mengejar kemewahan yang dapat dilihat orang lain, tetapi mengabaikan kekayaan pengetahuan dan kualitas kepribadian yang sesungguhnya jauh lebih menentukan nilai diri kita. Tidak ada yang salah dengan keinginan memiliki kehidupan yang sejahtera, rumah yang nyaman, pekerjaan yang baik, dan fasilitas yang memadai. Namun, semua itu hendaknya tidak membuat kita melupakan kewajiban untuk terus belajar, memperbaiki akhlak, mengembangkan kemampuan, dan memberikan kontribusi bagi kehidupan. Jadikanlah kesederhanaan sebagai cara menjaga kerendahan hati, ilmu sebagai sarana memperluas pandangan, dan akhlak sebagai pedoman menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Jangan hanya berlomba memperindah rumah, tetapi lupa memperindah pikiran dengan ilmu. Jangan hanya berusaha memperkaya harta, tetapi membiarkan wawasan dan pemahaman berhenti berkembang. Jangan pula merasa lebih mulia karena gelar atau jabatan, sebab nilai seseorang juga ditentukan oleh bagaimana pengetahuan dan kedudukannya digunakan untuk menghadirkan kebaikan. Teruslah belajar sepanjang hayat, sekalipun usia bertambah, jabatan berubah, dan keadaan kehidupan tidak selalu sesuai harapan. “Hiduplah sederhana agar hatimu tidak diperbudak oleh kemewahan dunia, tetapi perkayalah ilmumu agar pikiranmu tidak terbelenggu oleh keterbatasan pengetahuan. Jangan sibuk menjadi manusia yang terlihat kaya karena harta, tetapi berusahalah menjadi pribadi yang benar-benar kaya karena ilmu, bijaksana karena pengalaman, dan mulia karena akhlak. Sebab, kemewahan yang paling berharga bukanlah apa yang melekat pada penampilan, melainkan pengetahuan yang menerangi pikiran, kebijaksanaan yang membimbing tindakan, dan kebaikan yang terus mengalir melalui pengabdian.” Itulah pesan kehidupan yang dapat kita petik: sederhanalah dalam penampilan, kayalah dalam pengetahuan, rendah hatilah dalam kedudukan, dan jadilah luar biasa melalui kebermanfaatan.
