Perkataan ulama yang menyatakan
“Iman seseorang tidak sempurna sebelum ia memiliki dua hal, yaitu percaya
penuh kepada Allah dan selalu bersyukur kepada Allah” merupakan nasihat
spiritual yang sangat mendalam dan relevan sepanjang zaman. Ungkapan ini
menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan atau ritual ibadah semata,
melainkan kondisi batin yang tercermin dalam keyakinan hati dan sikap hidup
sehari-hari. Melalui pernyataan ini, ulama mengajak umat untuk merenungi
kualitas iman yang dimiliki, apakah sudah benar-benar hidup dan membimbing
setiap langkah kehidupan.
Percaya penuh kepada Allah
merupakan fondasi utama keimanan. Kepercayaan ini mencakup keyakinan bahwa
segala ketentuan Allah adalah yang terbaik, baik yang tampak menyenangkan
maupun yang terasa berat. Seseorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada
Allah akan berserah diri (tawakal) setelah berikhtiar, serta tidak mudah
goyah oleh ujian hidup. Keimanan seperti ini melahirkan ketenangan batin,
karena hati yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana atas segala
sesuatu.
Selain kepercayaan yang utuh,
iman yang sempurna juga ditandai dengan sikap selalu bersyukur kepada Allah.
Rasa syukur bukan hanya diungkapkan ketika memperoleh nikmat besar, tetapi juga
dalam hal-hal kecil dan bahkan dalam kondisi sulit. Bersyukur berarti menyadari
bahwa segala yang dimiliki bersumber dari Allah dan digunakan sesuai dengan
kehendak-Nya. Dengan bersyukur, seseorang tidak hanya menjaga hubungan
spiritual dengan Allah, tetapi juga membentuk kepribadian yang rendah hati dan
tidak mudah mengeluh.
Kedua unsur tersebut—percaya penuh dan bersyukur—saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Kepercayaan tanpa syukur dapat melahirkan sikap pasif dan kurang menghargai nikmat, sedangkan syukur tanpa kepercayaan yang kuat bisa berubah menjadi formalitas semata. Ketika keduanya bersatu, iman akan tampak dalam sikap optimis, sabar, dan konsisten dalam kebaikan. Inilah gambaran iman yang hidup dan berpengaruh nyata dalam perilaku seseorang.
Dengan demikian, ucapan ulama tersebut mengajarkan bahwa kesempurnaan iman bukanlah tujuan yang instan, melainkan proses pembinaan hati yang berkelanjutan. Percaya penuh kepada Allah menumbuhkan keteguhan, sementara rasa syukur menjaga kelembutan jiwa. Keduanya menjadi penopang utama bagi seorang mukmin dalam menghadapi dinamika kehidupan. Melalui iman yang dilandasi kepercayaan dan syukur, manusia akan mampu menjalani hidup dengan penuh makna, ketenangan, dan kedekatan kepada Allah.
