Peringatan Haul
ke-115 Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi bukan
sekadar momentum untuk mengenang sosok ulama besar, pecinta Rasulullah Saw., dan penyusun Simthud
Durar, tetapi juga kesempatan untuk menghidupkan kembali nasihat-nasihat
beliau yang tetap relevan melintasi zaman. Di tengah kehidupan yang semakin
kompleks, derasnya informasi, perubahan nilai, dan berbagai godaan yang sering
kali tampil dalam bentuk yang sulit dibedakan antara benar dan salah, kalam
hikmah beliau terasa semakin aktual. Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi
mengingatkan:
وَالزَّمَانُ كَثُرَتْ فِتْنَتُهُ، وَاخْتَلَطَ
سَيِّئُهُ وَحَسَنُهُ، فَلَا يُمَيِّزُ بَيْنَ الطَّرِيْقَيْنِ إِلَّا مَنْ لَهُ
عَيْنٌ، فَكُنْ عَلَى حَذَرٍ مِنَ الْوُقُوْعِ فِي مَسَالِكِ الِاشْتِبَاهِ.
“Zaman ini
telah banyak fitnahnya, dan keburukan bercampur dengan kebaikan. Tidak ada yang
mampu membedakan kedua jalan itu kecuali orang yang memiliki pandangan hati.
Maka berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke jalan-jalan yang samar.” Nasihat ini mengajarkan bahwa keselamatan seseorang
tidak hanya bergantung pada kecerdasan akal, tetapi juga pada kejernihan hati
dalam memandang hakikat sesuatu.
Ungkapan وَالزَّمَانُ كَثُرَتْ
فِتْنَتُهُ “zaman ini telah banyak fitnahnya” menggambarkan suatu keadaan ketika manusia menghadapi
berbagai ujian yang dapat menggoyahkan keimanan, akhlak, dan keteguhan prinsip.
Fitnah dalam pengertian ini tidak hanya berarti tuduhan atau berita bohong,
melainkan segala bentuk ujian yang dapat memalingkan manusia dari Allah Swt.
dan jalan kebenaran. Fitnah dapat muncul dalam bentuk cinta dunia yang
berlebihan, kekuasaan, harta, popularitas, fanatisme, pertengkaran, kebencian,
maupun informasi yang menyesatkan. Pada masa sekarang, manusia bahkan dapat
menerima ribuan informasi dalam waktu yang sangat singkat melalui media sosial
dan berbagai saluran digital. Jika tidak disertai ilmu dan kejernihan hati,
seseorang dapat dengan mudah mempercayai kebohongan, menyebarkan fitnah,
membenci orang lain tanpa dasar, bahkan menganggap sesuatu yang salah sebagai
kebenaran.
Lebih mendalam
lagi, beliau mengatakan, وَاخْتَلَطَ سَيِّئُهُ وَحَسَنُهُ “dan keburukan
bercampur dengan kebaikannya.” Inilah salah
satu ujian terbesar dalam kehidupan manusia: kebatilan tidak selalu hadir
dengan wajah kebatilan, dan kebaikan tidak selalu tampil secara sederhana
sehingga mudah dikenali. Ada keburukan yang dibungkus dengan kata-kata indah,
kepentingan pribadi yang mengatasnamakan kemaslahatan, kesombongan yang
menyamar sebagai ketegasan, serta keinginan mendapatkan pujian yang dibungkus
dengan amal kebajikan. Sebaliknya, ada nasihat yang terasa pahit tetapi
sesungguhnya membawa kebaikan, dan ada keputusan yang tidak menyenangkan tetapi
justru melindungi seseorang dari keburukan. Karena itu, seorang mukmin tidak
cukup menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya. Ia perlu melihat niat,
tujuan, cara, serta akibat yang ditimbulkan dari setiap tindakan sebelum
menentukan sikap.
Kemudian
Al-Habib ‘Ali Al-Habsyi memberikan kunci yang sangat penting melalui ungkapan فَلَا يُمَيِّزُ بَيْنَ
الطَّرِيْقَيْنِ إِلَّا مَنْ لَهُ عَيْنٌ “tidak ada yang mampu membedakan antara kedua jalan
itu kecuali orang yang memiliki pandangan.” Kata عَيْنٌ di sini dapat dipahami bukan sekadar mata secara
fisik, tetapi sebagai bashirah, yaitu mata hati atau kemampuan batin
untuk melihat hakikat suatu perkara. Mata fisik dapat melihat bentuk, warna,
dan penampilan, sedangkan mata hati membantu manusia menilai makna, tujuan, dan
kebenaran di balik sesuatu. Bashirah tumbuh dari keimanan, ilmu,
ketakwaan, keikhlasan, muhasabah, kedekatan kepada Allah Swt., serta kebiasaan
mengikuti tuntunan Rasulullah Saw. Semakin bersih hati seseorang dari kesombongan, iri
hati, cinta dunia berlebihan, dan hawa nafsu, semakin jernih pula kemampuannya
dalam membedakan kebenaran dari kebatilan.
Karena itu,
ilmu dan kebersihan hati harus berjalan bersama. Ilmu tanpa kejernihan hati
dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan hawa nafsu, sedangkan semangat
keagamaan tanpa ilmu dapat menyebabkan seseorang mudah salah dalam memahami
suatu persoalan. Orang yang memiliki bashirah tidak tergesa-gesa
memberikan penilaian, tidak mudah terbawa arus, dan tidak menjadikan banyaknya
pengikut sebagai ukuran mutlak kebenaran. Ia menimbang sesuatu berdasarkan
Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., petunjuk para ulama yang terpercaya, akhlak yang
mulia, serta pertimbangan maslahat dan mafsadat. Ia juga memiliki
kerendahan hati untuk mengakui bahwa dirinya dapat keliru. Inilah salah satu
karakter orang berilmu: semakin luas pengetahuannya, semakin besar
kehati-hatiannya dalam berbicara dan bertindak.
Nasihat
tersebut kemudian ditutup dengan peringatan yang sangat tegas: فَكُنْ عَلَى حَذَرٍ مِنَ
الْوُقُوْعِ فِي مَسَالِكِ الِاشْتِبَاهِ “maka berhati-hatilah agar tidak terjerumus ke
jalan-jalan yang samar.” Dalam
kehidupan, tidak semua persoalan berada dalam wilayah hitam dan putih. Ada
perkara-perkara syubhat, samar, serta keadaan yang membutuhkan
kehati-hatian sebelum seseorang menentukan sikap. Karena itu, sikap wara‘
sangat penting, yaitu kemampuan menahan diri dari perkara yang meragukan demi
menjaga agama dan kehormatan. Di zaman media sosial misalnya, kehati-hatian
dapat diwujudkan dengan tidak langsung membagikan berita sebelum memastikan
kebenarannya, tidak mudah menghakimi seseorang berdasarkan potongan informasi,
tidak mengikuti perdebatan yang hanya menimbulkan permusuhan, serta tidak
menjadikan ruang digital sebagai tempat melampiaskan kemarahan. Terkadang
keselamatan seseorang justru terletak pada kemampuannya untuk diam ketika belum
mengetahui kebenaran suatu perkara.
Dengan demikian,
kalam hikmah Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib ‘Ali bin Muhammad Al-Habsyi ini
mengajarkan bahwa menghadapi zaman penuh fitnah membutuhkan lebih dari sekadar
kecerdasan; manusia membutuhkan ilmu yang benar, hati yang bersih,
ketakwaan, kehati-hatian, dan kedekatan kepada Allah Swt. Haul ke-115
beliau semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah
mata hati kita cukup jernih untuk membedakan jalan yang membawa kepada Allah
dan jalan yang menjauhkan dari-Nya? Jangan sampai kemajuan zaman membuat
pengetahuan kita semakin luas, tetapi hati semakin kehilangan arah. Semoga
melalui keberkahan mengenang para shalihin, Allah Swt. membersihkan hati kita,
menganugerahkan bashirah, menjaga kita dari fitnah yang tampak maupun
tersembunyi, serta menuntun langkah kita agar senantiasa berada di jalan
Rasulullah Saw. dan para pewaris beliau.
